Sabtu, 18 Mei 2013

Setiap Penyakit Ada Obatnya

Untuk menjaga tubuh tetap sehat, jauh dari segala macam penyakit, baik penyakit yang sudah sempat menimpa tubuh maupun agar penyakit tidak sampai mengenai tubuh, hanya ada dua cara, yaitu :

1.Memelihara kesehatan secara konsisten dan kontinue (berkelanjutan). 

2.Dengan melakukan pencegahan penyakit agar penyakit tidak sampai mengenai kita.
 
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan dua cara pula : 
  1. Pencegahan agar tidak terkena penyakit, ini dilakukan pada orang yang sehat.
  2. Pencegahan agar penyakit tidak bertambah sekaligus menghilangkan / menyembuhkan penyakit yang sudah ada, ini dilakukan pada orang yang sudah terlanjur terkena penyakit.
Pencegahan penyakit yang kedua ini membutuhkan suatu bahan yang disebut dengan obat. Dalam hal ini  Islam mempunyai ketentuan mengenai penyakit dengan obatnya.
 
Berikut adalah hadits Rasulullah SAW. tentang penyakit dan obatnya :
Dari Jabir bin Abdillah RA. dari Nabi SAW. beliau bersabda : "Setiap penyakit ada obatnya. Apabila penyakit telah bertemu dengan obatnya, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Agung." (H.R. Muslim)
 
Hadits lain yang sama maksud dan pengertiannya dengan hadits di atas, antara lain :
Dari 'Athaa', dari Abu Hurairah, ia berkata : "Rasulullah SAW. telah bersabda : 'Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali menurunkan pula (obat) penyembuh bagi penyakit tersebut.'"
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Dari Abi Khuzamah ia berkata : "Aku berkata : Ya Rasulullah ! Bagaimana pendapatmu tentang melafazkan kata-kata do'a untuk memohon kesembuhan, kami bacakan do'a itu dan tentang obat yang kami pergunakan untuk mengobati penyakit serta tentang kata-kata do'a untuk mohon perlindungan / pemeliharaan, lalu kami bacakan do'a itu. Tidakkah hal itu menolak takdir (ketentuan) Allah ?' Maka Nabi SAW. menjawab : 'Hal itu juga termasuk takdir Allah'"
 
Dari hadits-hadits di atas dapat diketahui bahwa Allah SWT menurunkan penyakit beserta dengan obatnya dan melakukan penyembuhan dengan menggunakan obat juga merupakan takdir Allah. Hadits di atas juga menolak pendapat orang yang mengingkarinya.
Setiap penyakit itu ada obatnya adalah bersifat umum, mencakup segala macam penyakit dan segala macam obat termasuk penyakit-penyakit yang tidak mungkin dapat disembuhkan oleh para dokter ahli. Allah SWT. telah menyiapkan segala macam obat penyakit yang tidak mungkin dijangkau oleh akal manusia, karena memang manusia tidak diberikan kemampuan untuk itu.

Sesungguhnya obat yang melebihi aturan pakai atau obat yang melebihi takaran semestinya, akan menimbulkan penyakit yang lainya. Jika obat kurang sempurna aturan pakainya atau takarannya kurang banyak, maka obat itu tidak akan menyembuhkan penyakit. Sedangkan obat yang tidak dapat menemui penyakit, atau obatnya bukan untuk penyakit tersebut maka hal itu juga tidak menghasilkan kesembuhan.

Jika tubuh tidak dapat menerima obat yang diberikan, akibatnya kekuatan tubuh menjadi lemah. Atau di dalam tubuh ada sesuatu yang dapat menghilangkan manfaat obat yang diberikan, maka penyakitnya juga tidak akan sembuh karena tidak adanya persesuaian tadi. Dengan demikian, hanya jika antara penyakit dan obat yang diberikan terjadi kesesuaian yang sempurna, penyakit itu akan sembuh dengan segera.

Adanya perintah untuk berobat dalam hadits-hadits di atas, tidaklah berarti menghilangkan perintah bertawakkal, sebagaimana tidak menghilangkan perintah makan dan minum bagi orang yang lapar dan haus. Sebab tidak sempurna hakikat tauhid seseorang kecuali dengan mengikuti hukum sebab akibat, baik ditinjau dari segi keduniaan maupun dari segi syari'at.

Hadits-hadits di atas sekaligus menolak pendapat orang yang mengatakan tidak ada gunanya berobat. Mereka mengatakan : "Jika sembuhnya penyakit telah merupaka takdir Allah, maka berobat sebenarnya tidak memberikan arti apa-apa (tidak berguna). Penyakit itu merupakan takdir Allah dan takdir Allah tidak mungkin ditolak." Inilah pernyataan yang pernah dikemukakan oleh sekelompok orang-orang Arab kepada Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW. telah menjawab pernyataan tersebut dengan singkat tetapi jelas. Pengobatan yang dilakukan adalah karena takdir Allah. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari takdir Allah tetapi yang dilakukan adalah menolak takdir dengan takdir juga. Tidak ada jalan untuk keluar dari takdir Allah melainkan dengan takdir juga.

Hal ini dapat dicontohkan dengan jelas seperti menolak takdir lapar dan haus dengan melakukan takdir makan dan minum, menolak takdir musuh dengan melawannya. Semuanya adalah takdir Allah, baik menolak, yang ditolak maupun pekerjaan menolak itu sendiri.

Dalam sejarah Bani Israil diceritakan sebagai berikut : Nabi Ibrahim bertanya kepada Allah : "Wahai Tuhanku ! Dari siapakah datangnya penyakit itu ?" Allah menjawab dengan firman-Nya : "Dari Aku." Ibrahim bertanya lagi : "Dari siapakah datangnya obat itu ?" Allah menjawab :"Dari Aku." Selanjutnya Nabi Ibrahim bertanya : "Maka bagaimana kedudukan dokter dalam hal ini ?" Allah menjawab dengan firman-Nya : "Dokter adalah seseorang yang mendapatkan kiriman obat di atas tangannya."

Penegasan Nabi Muhammad SAW. merupakan suatu daya pendorong yang kuat bagi si sakit maupun bagi para dokter untuk terus berusaha mencari obat penyakit.

Orang sakit apabila diberikan harapan bahwa ada obat yang akan menyembuhkan penyakitnya, hatinya akan merasa gembira karena mempunyai harapan akan sembuh yang menyebabkan jiwanya akan kuat. Kekuatan jiwa atau semangat merupakan suatu sugesti diri dan kekuatan yang dapat menolak penyakit yang ada dalam tubuh (Plasebo).

Demikian pula bagi seorang dokter, jika ia mengetahui bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, hal itu akan mendorong semangatnya untuk terus menerus melakukan penelitian, hingga akhirnya ia dapat menemukan obat yang dicarinya itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Leaf