Kamis, 16 Mei 2013

Tidur dan Bangun Menurut Islam

Tidur dan bangun yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. adalah tidur yang terbaik, bermanfaat bagi tubuh serta menambah kekuatan badan.

Beliau berangkat tidur di awal malam (setelah isya) dan bangun pada awal seperdua malam yang terakhir. Stelah bangun beliau langsung bangkit untuk bersugi (sikat gigi), berwudlu' dan shalat malam (Tahajjud). Dengan demikian beliau mendapatkan kesegaran dan kekuatan sebagian dengan istirahat dan tidur ; dan sebagian lagi dengan jalan berolahraga. Inilah cara pemeliharaan kesehatan jasmani dan rohani yang paling jitu untuk hidup dunia dan akhirat.
Beliau tidak pernah tidur melebihi waktu yang diperlukan dan tidak pernah menahan rasa kantuknya untuk segera tidur. Rasulullah SAW. tidak pernah tidur dalam keadaan perut penuh oleh makanan ataupun minuman. Beliau tidur di atas kasur yang terbuat dari kulit binatang yang diisi dengan sabut dan tidak pernah tidur di atas tempat tidur yang tinggi. Tidurnya miring menghadap ke kanan, tidak pernah telungkup. Kepalanya memakai alas bantal dan kadang-kadang meletakkan tangannya di bawah pipi. Beliau senantiasa berdzikir kepada Allah ketika membaringkan badannya di tempat tidur sampai terlelap.

Tidur mempunyai dua keuntungan, yaitu :
  1. Diamnya seluruh anggota badan dan istirahat dari rasa lelah.
  2. Makanan dapat dicerna dan masak dengan sempurna, karena panas tubuh akan terpusat pada perut.
Tidur yang baik dan membawa manfaat bagi tubuh adalah : berbaring menghadap ke kanan agar makanan berada dalam posisi  yang baik dalam lambung  (perut besar), tidak berhimpit dengan hati. Sedangkan tidur miring ke kiri akan memudlaratkan hati sebab seluruh anggota badan akan condong ke kiri menghimpit hati.

Tidur yang baik dan benar akan memberi kekuatan baru bagi tubuh, istirahatnya otak bekerja dan menghilangkan kelelahan.

Tidur yang jelek dan tidak mendatangkan manfaat adalah : Tidur telentang atau telungkup. Berbaring telentang untuk istirahat, bukan untuk tidur tidak memudlaratkan bagi tubuh. mengenai tidur telungkup, Abu Umamah RA. meriwayatkan :
Nabi Muhammad SAW. melewati seorang laki-laki yang sedang tidur telungkup di dalam mesjid. Maka Nabi mengusiknya dengan kakinya dan berkata : "Bangkitlah engkau, atau duduklah. Sesungguhnya tidurmu itu adalah tidur dalam neraka jahannam."
H.R. Ibnu Majah.

Tidur pada siang hari dapat menimbulkan penyakit biri-biri, merusak mata, penyakit limpa, melemahkan urat, menurunkan dan melemahkan syahwat ; kecuali tidur siang pada waktu musim kemarau ketika dalam perjalanan. Lebih buruk lagi tidur diawal siang dan diujung waktu Ashar menjelang matahari terbenam.

Ibnu Abbas menghardik anaknya yang tidur dipagi hari (awal siang) dengan katanya : "Hei, bangun ! Pantaskah engkau tidur pada waktu rezeki sedang dibagi-bagi ?"

Tidur siang terbagi menjadi tiga macam, yaitu :
  1. Khulq yaitu tidur yang biasa, yakni tidur karena dalam musafir dan inilah tidurnya Rasulullah SAW.
  2. Khurq yaitu tidur pada waktu dluha, melupakan pekerjaan dunia dan akhirat.
  3. Humuq yaitu tidur orang bodoh yakni pada waktu Ashar.
Sebagian ulama Salaf  (ulama sebelum abad II Hijriyah) mengatakan :
"Barangsiapa tidur sesudah waktu Ashar, maka kecerdasannya akan berkurang. Tidaklah celaka orang itu kecuali atas akibat perbuatannya sendiri (tidur siang sesudah Ashar itu)."

Tidur pada waktu subuh berarti menolak rezeki, karena pada waktu itulah semua makhluk mencari rezeki dan waktu itu adalah waktu dibagi-baginya rezeki. Maka tidur pada waktu itu sangat dicela, kecuali karena ada maksud tertentu atau karena sakit.

Tidur pada waktu subuh memudlaratkan bagi tubuh. Badan akan menjadi lemah, kelebihan makanan pada tubuh yang seharusnya keluar dengan olahraga akan merusak anggota tubuh. Walaupun tidurnya itu sebelum mandi, belum melaksanakan pekerjaan apapun, belum berolahraga dan tidak memakan atau minum sesuatu apapun. Penyakit yang diakibatkannya, termasuk penyakit yang sulit sembuh meskipun memakai bermacam-macam obat.

Tidur sewaktu terbit matahari maupun tidur sebagian ujung malam dan sebagian lagi pada waktu matahari terbit, merusak jasmani.

Dan hadis berikut ini, menunjukkan bahwa Rasulullah SAW. melarang tidur pada waktu pergantian antara malam dengan terbitnya matahari maupun sebaliknya.
Dari Abu Hurairah, ia berkata : "Rasulullah SAW. bersabda : 'Apabila salah seorang kamu tidur pada waktu matahari (masih bersinar), dimana hari beralih menjadi gelap (malam), maka tidurnya sebagian pada waktu matahari masih terbit dan sebagian lagi pada waktu sudah gelap (malam), maka hendaknya ia bangun.'"
Ditakhrijkan oleh Hakim dalam kitab sahihnya.

Mengenai adab sebelum tidur, Rasulullah SAW. mengajarkan sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut :
Dari Barraa' bin 'Azib, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda : "Apabila engkau mendatangi tempat tidurmu, maka hendaklah engkau berwudlu' sebagaimana wudlu' hendak mendirikan shalat, kemudian berbaringlah di atas badanmu yang sebelah kanan. Kemudian berdo'alah : 'Ya Allah. sesungguhnya aku menyerahkan diriku kepada-Mu, kuserahkan segala urusanku kepada-Mu, aku perlindungkan tulang belakangku kepada-Mu, dalam keadaan gembira maupun takut, tiada tempat berlindung dan tiada tempat memohon kelepasan kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada nabi-Mu yang telah engkau utus. 'Hendaklah engkau jadikan kalimat-kalimat tersebut menjadi perkataanmu yang terakhir (sebelum tertidur pulas). Jika engkau mati pada malam itu, maka matimu dalam keadaan fitrah (suci). H.R. Bukhari dan Muslim.

Tidur miring di atas badan bagian kanan, membuat seseorang tidur dengan istirahat total, karena letak hati agak berat ke kiri. Jika tidur miring ke kiri, maka gerakan hati akan menyempit yang menyebabkan tidurnya tidak mendapatkan istirahat total.

Tidur sebenarnya adalah saudara kembar dari kematian. Oleh karena itu orang yang tidur memerlukan penjaga dan pengawas untuk memelihara dirinya dari segala macam bahaya yang mungkin terjadi selama waktu tidurnya. Pemelihara yang terbaik adalah Allah. Maka Nabi Muhammad SAW. mengajarkan beberapa kalimah untuk penyerahan diri kepada Allah serta mengulangi keimanannya dan dalam keadaan yang demikian itulah seorang muslim tertidur. Oleh karena itu kalimat yang terakhir yang diucapkannya sebelum tidur, maka seandainya ia wafat dalam tidurnya, wafatnya dalam keadaan beriman dan pasti masuk surga.

Di sini terlihat jelas bagaimana sempurnanya tuntunan Rasulullah SAW. mengenai masalah tidur. manfaatnya mencakup kebaikan bagi hati, jasmani dan rohani, baik ketika tidur maupun sesudah bangun, di dunia dan di akhirat.

Adapun bangun tidur Nabi Muhammad SAW. sewaktu ayam berkokok (waktu subuh). Beliau bangun seraya memuji Allah, mengagungkan-Nya serta berdo'a. Kemudian ia bersugi (gosok gigi), berwudlu' dan menegakkan shalat.

Alangkah indahnya aktivitas harian Rasulullah SAW. baik ketika hendak tidur maupun setelah bangun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Leaf